Semua artikel

Apa itu berpikir matematis? Bedanya dengan matematika di sekolah, dan perlukah anak ikut les tambahan

Lampu yang menyala, timbangan yang seimbang, dan dadu bermata lima.

"Matematika nalar", "berpikir matematis", "berhitung cepat": orang tua mendengar banyak nama untuk kelas yang menjanjikan lebih dari sekadar lembar kerja. Wajar kalau bingung. Apakah berbeda dengan yang dipelajari di sekolah? Apakah semua anak membutuhkannya? Artikel ini menjelaskan berpikir matematis dengan bahasa sederhana, supaya Anda bisa memutuskan dengan tenang apa yang benar-benar dibutuhkan anak.

Apa arti berpikir matematis

Berpikir matematis adalah kebiasaan memahami mengapa, bukan hanya mengingat caranya. Anak yang berpikir matematis bisa:

  • Memahami bilangan: tahu bahwa 9 itu "kurang satu dari 10" atau 50 itu "setengah dari 100".
  • Melihat pola: menyadari bahwa menambah 10 hanya mengubah angka puluhan.
  • Mencari lebih dari satu cara: menghitung 8 + 7 sebagai 8 + 2 + 5, atau 7 + 7 + 1.
  • Memperkirakan dan memeriksa: "Kira-kira 30, jadi 300 pasti salah."
  • Menjelaskan: menceritakan bagaimana ia mendapat jawaban, dan menemukan kesalahan dalam sebuah penjelasan.

Semua ini tidak menggantikan hafalan fakta dasar. Anak tetap perlu tahu 6 + 4 = 10 tanpa menghitung jari. Berpikir matematis membuat fakta-fakta itu berguna dan luwes.

Dua jenis pertanyaan

Perbedaannya paling mudah terlihat dari pertanyaan yang diberikan kepada anak:

Terutama berhitung Juga bernalar
7 + 5 = ? Tunjukkan dua cara berbeda untuk mendapat 12.
Hafalkan perkalian 3. Mengapa 3 × 4 sama dengan 4 × 3? Gambarkan.
25 + 38 = ? Apakah 25 + 38 lebih atau kurang dari 60? Bagaimana kamu tahu tanpa menjumlahkan?
Hitung apelnya. Ada 12 apel. Ada berapa cara membaginya sama rata?

Kedua kolom penting. Kolom kiri melatih kecepatan dan ketelitian. Kolom kanan melatih pemahaman, dan sering kali di sinilah anak paling menikmati matematika.

Matematika sekolah dan berpikir matematis tidak bertentangan

Pengajaran yang baik di sekolah sudah memuat penalaran, dan penalaran yang baik tetap butuh latihan dasar. Daripada memilih salah satu, tanyakan: apakah anak saya paham apa yang ia kerjakan, atau hanya mengikuti langkah? Cara mengeceknya sederhana: tanyakan "Bagaimana kamu menghitungnya?" Jika anak bisa menjelaskan dengan kata-katanya sendiri, meski belum rapi, ia sudah berpikir matematis.

Perlukah anak ikut les tambahan?

Tidak ada jawaban yang cocok untuk semua keluarga. Ada anak yang senang ikut kelas seminggu sekali; ada yang sudah lelah sepulang sekolah dan lebih banyak belajar lewat bermain di rumah. Pertanyaan yang bisa membantu:

  • Apakah anak menyukai matematika, atau sudah merasa tertekan? Tekanan tambahan jarang membantu anak yang cemas.
  • Berapa banyak waktu luang dan istirahatnya? Bermain, tidur, dan waktu di luar ruangan juga penting.
  • Apa yang sebenarnya dilakukan di kelas? Minta melihat satu sesi atau contoh kegiatan.
  • Apakah biayanya wajar bagi keluarga? Sebagian besar penalaran ini bisa dilatih di rumah tanpa biaya.

Tanda kelas yang mungkin cocok:

  • Anak berbicara dan menjelaskan, bukan hanya mengisi jawaban.
  • Soalnya beragam dan kadang punya lebih dari satu jawaban.
  • Kesalahan dianggap bagian dari belajar.
  • Anak pulang dengan rasa ingin tahu, bukan kelelahan.

Tanda yang perlu diwaspadai:

  • Janji hasil cepat atau menjadikan anak "jenius".
  • Tes kecepatan terus-menerus dan peringkat yang membandingkan anak.
  • Sesi latihan panjang yang berulang dengan sedikit penjelasan.

Melatih berpikir matematis di rumah

  • Tanyakan "Bagaimana kamu tahu?" setelah anak menjawab, benar atau salah.
  • Cari cara kedua. "Kamu menghitung satu per satu. Ada cara yang lebih cepat?"
  • Perkirakan sebelum menghitung: stoples kancing, langkah ke taman, makaroni di mangkuk.
  • Main dadu dan kartu: menjumlahkan, membandingkan, dan merencanakan langkah.
  • Pakai masalah nyata: membagi camilan, merencanakan piknik, memilah mainan.
  • Pecahkan teka-teki bersama dan ungkapkan cara berpikir Anda dengan suara keras.

Di Dologi, teka-teki dibangun di atas penalaran, bukan kecepatan: anak membandingkan, mencari pola, dan menemukan jawaban dengan iramanya sendiri. Itu bisa menjadi salah satu bagian, berdampingan dengan obrolan dan permainan di rumah.

Ringkasnya

  • Berpikir matematis berarti memahami mengapa, melihat pola, mencari beberapa cara, dan menjelaskan.
  • Ia berjalan bersama keterampilan dasar, bukan menggantikannya.
  • Ikut les atau tidak adalah pilihan keluarga: lihat minat anak, waktu istirahat, isi pelajaran, dan biaya.
  • Di rumah, tanyakan "Bagaimana kamu tahu?", biasakan memperkirakan, main dengan angka, dan pecahkan masalah nyata.

Baca juga: Belajar matematika dengan barang di rumah: menghitung, membandingkan, dan membagi.